Sunday, September 8, 2019


Laporan Mini Riset Sosiologi Pendidikan

PROSES BELAJAR MENGAJAR DAN PENERAPAN HIDDEN CURRICULUM
DI LINGKUNGAN SMA HANG TUAH 1 SURABAYA 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Larat belakang
Pendidikan merupakan aset terpenting dalam menciptakan regenerasi yang mumpuni, dalam artian mampu bersaing tidak hanya pada rana nasional tatapi secara internasional. Pendidikan merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan yang berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat menunjukan potensi dirinya dan mengontrol tindakannya. Bicara soal pendidikan, maka akan berbicara mengenahi pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya, pendidikan ini adalah model pendidkan yang nyata terlihat dalam kehidupan. Akan tetapi juga terdapat pendidikan non formal yang harus mendapatkan perhatian serupa. Karena dari penerapan pendidikan non formal inilah nilai, norma, moral atau etika dan tata cara berperilaku setiap individu diatur. Baik sekolah maupun instansi pendidikan tinggi selalu memiliki kurikulum yang ditetapkan dalam menjalankan proses transfers of knowledge kepada pihak-pihak penerima transfers, selain itu juga akan muncul penerapan hidden curriculum yang berjalan beriringan dengan penerapan kurikulum formal.
Hidden Curriculum, merupakan wujud kurikulum yang menginginkan hasil lebih berupa skill pada pesert didik, dapat diartikan sebagai kurikulum yang tidak terprogram, namun kurikulum ini nampak ada dalam penerapan individu di kelas dan sekolah. Artinya, perilaku yang muncul dapat berupa perilaku di luar tujuan yang dideskripsikan oleh guru. Selain itu, kurikulum terdembunyi (Hidden Curriculum) juga bisa dijadikan sebagai alat kontrol bagi penerapan nialai-norma yang di cita-citakan bersama. Melihat peran sekolah yang mulai meningkatkan perannya dalam mengatur para siswanya baik dari segi akademis dan non akademis, maupun dari segi ketaatan, penerapan nilai dan norma, serta moral atau etika.
Secara akademis seorang siswa dikatakan mampu unggul dengan baik, tetapi tidak menutup kemungkinan seorang siswa ini sangat rendah dalam penerapan nilai-nilai moralnya. Begitu juga sebaliknya, namun juga tidak sedikit para siswa yang dicap atau berlebel tidak pintar dan berperilaku buruk.
Seperti halnya kondisi SMA Hang Tuah 1 yang menjadi objek pnelitian. Saat ini sekolah tersebut sedang dalam pembangunan baik fisik maupun non fisik. Pembangunan fisik seperti pembagunan gedung kelas perhotelan, masjid, dan lain sebagainya. Sedarkan untuk non fisik, lebih diterapkan para pendidikan karakter untuk menstimulasi siswa-siswi agar mampu menerapkan nilai-nilai serta norma, dan akhlak yang mulia baik dalam kehidupan di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan yang akan datang di lingkungan masyarakat secara luas. Jadi sekolah harus mampu menjadi wadah tidak hanya dalam mencerdaskan siswa-siswanya namun juga dalam menerapkan nilai, moral dan tingka laku yang andhap asor dan berkarakter.
Dengan demikian menjadi penting jika sekolah juga memiliki cita-cita dalam penerapan kurikulumnya melalui salah satunya adalah kurikulum tersembunyi (Hideen Curriculum).  Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Esti Rahma Pratiwi (2016) dalam skripsinya berjudul “Pengaruh kurikulum tersembunyi terhadap pembentukan karakter siswa kelas VIII di SMP IT Masjid Syuhada’ Kota Baru Yogyakarta” dikatakan bahwa Hidden Curriculum dapat memberikan pengaruh terhadap karakter siswa dalam memahami lingkungannya sosialnya. Serta diketahui adanya hubungan yang positif anatara Hidden Curriculum dengan karakter siswa dan dapat dijadikan alat kontrol atau pengawasan yang intensif dalam penerapannya di sekolah. Perbedaan mini riset ini dengan penelitian terdahulu terletak pada pembentukan karakter siswa yang diangkat dalam judul skripsi diatas, sedangkan mini riset ini ingin menjelaskan ”proses belajar mengajar dan penerapan hidden curriculum di lingkungan sekolah”.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti menarik beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana proses belajar mengajar dan penerapan hidden curriculum di lingkungan sekolah ?
2.      Apakah penerapan hidden curriculum mampu memberikan perubahan pada tingkah laku siswa ?

1.3  Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut :
1.      Untuk menjelaskan proses belajar mengajar dan penerapan hidden curriculum yang terjadi di lingkungan sekolah.
2.      Untuk menjelaskan peran hidden curriculum terhadap perubahan tingkah laku siswa.

1.4  Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut, yaitu :
1.      Bagi Mahasiswa
Adapun manfaat bagi mahasiswa adalah :
1.    Untuk mendidik mahasiswa agar mampu mengetahui secara langsung tentang praktek hidden curriculum dan berpikir kritis dalam menyikapi realita yang ada dalam kehidupan di lingkungan sekolah khususnya dan lingkungan masyarakat luas pada umunya.
2.    Untuk mengengbangkan wawasan dan disiplin ilmu baik secara teori maupun pratek yang berhubungan dengan bidang sosiologi pendidikan, agar tidak bersifat abstraksi.
2.      Bagi masyarakat
Adapun manfaat bagi masyarakat adalah :
1.      Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait penerapan hidden curriculum di lingkungan sekolah.
2.      Agar dapat memberikan motivasi kepada siswa sebagi subjek penelitian untuk mampu berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1    Tinjauan Pustaka
Dalam studi ini kami menggunakan beberapa acuan teori yang nantinya dapat menjawab realitas mengenahi pengaruh transfers of knowledge guru terhadap siswa dalam penerapan hidden curriculum di Lingkungan Sekolah. Adapun beberapa teori yang kami gunakan untuk melihat peran guru atau pihak sekolah dalam memberikan sumbangsih pengetahuannya kepada siswa meliputi :
1.    Kurikulum
Definisi kurikulum menurut Saylor J Gallen dan William N. Alexander merupakan keseluruan usaha untuk mempengaruhi belajar, baik berlangsung di kelas, di halaman, maupun di luar sekolah (Damsar: 2011). Beberapa pakar pendidikan dan sosiologi pendidikan telah mengkonstruksi berbagai tipe kurikulum berdasarkan sudut pandang dan pemikiran yang berbeda. Untuk mengkaji topik bahasan penelitian ini, maka tipologi kurikulum dilihat berdasarakan harapan kenyataannya. Dimana berdasarkan harapan kenyataan, kurikulum dapat dibagi ke dalam kurikulum ideal dan real (aktual).
a.    Kurikulumi ideal
Kurikulum yang dicita-citakan dan diharapkan oleh banyak oarang, paling tidak oleh para pembuatnya. Mengandung gagasan konseptual tentang apa yang seharusnya dan baik dikandung oleh suatu kurikulum. Kurikulum ini tercantum dalam dokumen resmi yang dimiliki oleh suatu lembaga pendidikan. Dalam konteks Indonesia di contohkan melalui adanya kurikulum nasioanal dan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) atau baru-baru ini yang dikenal dengan kurikulum 13 (K-13).
b.    Kurikulum real (aktual)
Kurikulum yang diimplementasikan dalam pendidikan, pembelajaran, dan pengajaran. Kenyataan (realitas) memiliki kecenderungan yang tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan atau dicita-citakan. Misalnya apa yang telah diamanatkan dalam kurikulum nasional atau KTSP, dalam kenyataan belum tentu persis sama seperti apa yang dilaksanakan di dalam kelas atau di sekolah. Tentunya, semakin dekat persamaan dan kesamaan antara kurikulum ideal dan real, maka semakin baik dan tepat pencapaian suatu kurikulum.

2.    Hidden curriculum (Kurikulum Tersembunyi)
Kurikulum tersembunyi (Hidden Curriculum) menurut Ballantine (1983: 178), dikembangkan oleh Benson Snyder (1971) hidden curriculum menunjuk pada permintaan implisit (sebagai lawan dari kewajiban eksplisit dari ‘kurikulum tampak’ (visible curriculum) yang ditemukan pada setiap institusi pembelajaran dan yang mana (maha)siswa harus mengetahui dan menanggapi sehingga dapat bertahan didalamnya. Kurikulum tersembunyi merujuk pada peraturan, regulasi dan rutin yang mana partisipan sekolah mesti menyesuaikan diri. Itu dapat dilihat melalui bagaimana ruang kelas diorganisasi, sistem penghargaan, dan sosialisasi moral berlangsung melalui peratuaran, regulasi, dan rutin (Damsar: 2011).
Hidden curriculum juga dapat diartikan sebagai kurikulum yang tidak terprogram, namun kurikulum ini nampak ada dalam penerapan individu di kelas dan sekolah. Artinya, perilaku yang muncul dapat berupa perilaku di luar tujuan yang dideskripsikan oleh guru. Selain itu, kurikulum terdembunyi (Hidden Curriculum) juga bisa dijadikan sebagai alat kontrol bagi penerapan nialai-norma yang di cita-citakan bersama. Ada dua aspek yang dapat mempengaruhi perilaku sebagai Hidden Curriculum, yaitu :
1.      Aspek relatif tetap, artinya terdapat ideologi, keyakinan, nilai budaya masyarakat yang dapat mempengaruhi sekolah termasuk di dalamnya menentukan budaya apa yang patutdan tidak patut diwariskan oleh generasi bangsa.
2.      Aspek yang dapat berubah, artinya aspek-aspek ini meliputi variabel organisasi sistem sosial dan kebudayaan. Dimana variabel organisasi terdiri dari bagaimana cara guru mengelola kelas, bagaimana pelajaran diberikan, bagaimana kenaikan kelas dilakukan. Sedangkan sistem sosial meliputi pola hubungan sosial antar guru, guru dengan siswa, guru dengan staf sekolah, dan lain sebagainya.

3.    Peran
Peran (role) merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Peranan dapat membimbing seseorang dalam berperilaku, karena fungsi peran itu sendiri dapat memberi arah pada proses sosialisasi; pewarisan nilai, norma dan pengetahuan; pemersatu kelompok atau masyarakat; serta menghidupkan sistem pengendali dan kontrol (J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto: 2004). Dalam penelitian ini yang lebih menjadi fokus adalah perana guru dan siswa sebagai aktor pendidkan, dimana peranan guru dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai fasilitator, namun tidak hanya itu guru juga dapat disebut sebagai expert learners, manager, dan sebagai mediator.
Sebagai expert learners guru diharapkan memiliki pemahaman mendalam tentang materi pembelajaran, menyediakan waktu yang cukup bagi siswa, menyediakan masalah dan alternatif solusi, merubah strategi ketika siswa sulit mencapai tujuan (pemahaman), dan psikomotor siswa. Sebagai manager, guru berkewajiban memonitoring hasil belajar siswa, memonitoring disiplin kelas, dan hubungan interpersonal, serta memonitoring ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas. Sedangkan sebagai mediator, guru memandu para siswa mengembangkan sikap positif terhadap belajar, sampai pemodelan proses berpikir dengan menunjukan kepada siswa untuk ikut berpikir kritis. Selain guru juga ada keterlibatan siswa di dalamnya, keterlibatan siswa di artikan sebagai peran aktif dalam berpartisipasi dalam proses belajar mengajar.
Menurut Dimjati dan Mudjiono (1994) keterlibatan atau peran siswa dapat didorong oleh peran guru. Adapun kualitas dan kuantitas peran siswa dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal meliputi faktor fisik, motivasi belajar, kepentingan dalam aktivitas yang diberikan, kecerdasan dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal meliputi guru, materi pembelajaran, media, alokasi waktu, fasilitas dan sebagainya.

2.2    Kerangka Berfikir
Pengaruh transfer of knowladge yang diberikan guru terhadap siswa merupakan hal yang penting, karena hubungan didalamnya akan memberikan dampak bagi pengetahuan siswa akan proses belajar mengajar yang berlangsung bahkan yang sudah berlangsung sekalipun. Pada dasarnya peran guru maupun pihak sekolah dalam mengarahkan siswa agar sesuai dengan yang dicita-citakan, merupakan bagian dari peran-peran sosial yang dijalani. Pendidikan yang semakin lama semakin berkembang juga menuntun perkembangan pola mengajar guru dan pola belajar siswa di lingkungan sekolahnya. Dengan adanya kurikulum, diharapka proses belajar mengajar dapat lebih terarah dan terstruktur, serta mampu diterapkan sebaik mungkin. Sedangkan hidden curriculum sendiri menjadi penanda bahwa tidak hanya ilmu atau pengetahuan formal saja yang menjadi target pembelajaran, melainkan nilai-norma serta akhlak juga harus dibangung dalam diri siswa.
Dalam rangka menjelaskan proses belajar mengajar serta mengetahui seberapa besar pengaruh sekolah terhadap tingkah laku siswa dalam penerapan hidden curriculum., maka perlu dilakukan tindakan yang dapat mengarah pada keberhasilan penerapan-penerapan hidden curriculum dengan prosedur kurikulum pendidikan saat ini. Dari penelitian ini diharapkan mampu mengeksplor lebih jauh lagi mengenahi permasalahan yang berkenaan dengan proses belajar mengajar, dan penerapan hidden curriculum di sekolah.

2.3 Definisi Konseptual
1.      Pendidikan
Pendidikan merupakan tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak yang bermaksud menuntut dalam  segala kekuatan kodrati pada anak-anak itu supaya mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat mampu menggapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
2.      Peran
Peran merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Peranan dapat membimbing seseorang dalam berperilaku, karena fungsi peran itu sendiri dapat memberi arah pada proses sosialisasi; pewarisan nilai, norma dan pengetahuan; pemersatu kelompok atau masyarakat; serta menghidupkan sistem pengendali dan kontrol.
3.      Perilaku
Diartikan sebagai suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya, berupa tindakan ataupun aktivitas yang dapat berupa sekolah, kuliah, membaca, menulis, berbicara, dan lain sebagainya.
4.      Hidden curriculum
Menunjuk pada pratek dan hasil persekolahan yang tidak diuraikan dalam kurikulum terprogram atau petunjuk kurikulum kebijakan sekolah, namun merupakan bagian yang tidak teratur dan efektif mengenahi pengalaman sekolah.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

1.1    Tipe Penelitian
Tipe penelitian Sosilogi Pendidikan ini tergolong dalam penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif dimaksudkan untuk memberikan  gambaran, realitas sosial tertentu. Untuk menjelaskan proses belajar mengajar dan penerapan hidden curriculum di lingkungan sekolah terutama di lokasi penelitian yaitu SMA Hang Tuah 1, surabaya.

1.2    Lokasi dan Waktu Penelitian
Untuk memahami tugas mata kuliah Sosiologi Pendidikan, maka diadakan mini riset Sosiologi Pendidikan yang diselenggarakan pada :

Hari                 : Sabtu
Tanggal           : 29 Oktober 2016
Lokasi             : SMA Hang Tuah 1 Surabaya

Pemilihan lokasi ini didasarkan atas beberapa pertimbangan, yaitu : lokasi dinilai mewakili pemenuhan jawaban bagi peneliti mengenai proses belajar mengajar terhadap siswa dalam penerapan hidden curriculum, serta lokasi disesuaikan dengan kondisi peneliti dimana lokasi ini dipilih karena tidak jauh dari rumah maupun tempat kuliah peneliti.

1.3    Sumber Data
Sumber data yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah sumber data-data primer dan sekunder, diantaranya :
1.      Data primer
           Data primer adalah data yang didapat langsung dari peneliti, sumber data primer yang digunakan dalam penelitian meliputi : Informasi dari guru sebagai pengajar yang tau kondisi siswa setempat. Informasi dari guru bimbingan konseling sebagai media informasi mengenahi perilaku siswa-siswi setiap harinya, yang dianggap mengetahui kondisi fisik dan psikis murid-muridnya.
2.      Data Sekunder
           Data sekunder yaitu data yang didapat secara tidak langsung dari sumbernya. Dalam penelitian ini sumber data sekunder yang dipakai adalah sumber tertulis seperti buku, makalah ilmiah, jurnal, dan dokumen dari pihak yang terkait mengenahi masalah yang penulis angkat.

1.4    Populasi dan Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah individu yaitu pihak-pihak yang terkait dalam intansi di SMA Hang Tuah-1 Surabaya. Dalam penelitian kualitatif sampel bukan mewakili populasi, sehingga tidak ditentukan berdasarkan ketentuan yang mutlak, tetapi sampel berfungsi untuk menggali beragam informasi yang penting dan dibutuhkan peneliti dilapangan. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non probabilitas purposive sampling dimana peneliti mempunyai peranan paling besar dalam menentukan siapa dan berapa sampling yang digunakan.

1.5    Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah dengan melakukan observasi langsung, dengan terjun langsung ke lokasi penelitian untuk mengamati semua aktivitas yang dilakukan selama proses belajar mengajar. Selanjutnya peneliti melakukan wawancara mendalam (indept interview), dalam hal ini wawancara dilakukan secara tidak terstruktur. Dan yang terakhir adalah dokumentasi berupa foto yang berfungsi untuk melengkapi data sekunder yang dibutuhkan peneliti dilapangan.
  
1.6    Teknik Analisis Data
Data diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentsi. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam artinya peneliti memberikan pertanyaan kepada informan secara mendalam sesuai dengan fokus permasalahan. Teknik yang diguanakan dalam indepth interview ini menggunakan data primer dan data sekunder. Dari gambaran umum tersebut kemudian dilakukan pemilahan atau klasifikasi, dan diperoleh klasifikasi terhadap hidden curriculum di lokasi penelitian yaitu sekolah. Dengan cara menyederhanakan data tersebut, sehingga data tersebut dapat diinterpretasikan dan dapat dipertanggungjawabkan.


  
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
SMA Hang Tuah-1 Surabaya merupakan bagian dari lingkungan di bawah kendali Yayasan Hang Tuah, tepatnya cabang Suarabaya. Dalam hal ini peneliti memilih lingkungan ini karena lingkup yang lebih kecil dan mudah diakses karena tidak jauh dari wilayah kampus. Salain itu alasan lain yang mendasari adalah masalah waktu dan mobilitas yang dianggap mudah untuk ditempuh dan tidak mengganggu selama proses perkuliahan peneliti. SMA Hang Tuah 1 saat ini sedang dalam proses membangunan, seperti pembangunan gedung perhotelan, masjid, dan lain sebagainya. Lokasi yang bertempat di wilayah perumahan TNI dan berdekatan dengan pure serta sekolah dasar, dan akses keluar yang langsung berhadapan dengan jalan raya.
Ruang kelas yang berukuran besar memuat hampir 50 siswa di dalamnya, lokasi sekolah yang luas dan bagunan di buat mengelilingi lapangan upacara. Kantin yang dibuat seperti stand di pertokoan, dan gazebo yang di desain minimalis tapi indah. Ruang laboratorium fisika, laboratorium komputer dan sebagainya, dibuat sesuai kebutuhan siswa-siswinya. Ruang Tata Usaha yang berdampingan dengan ruang bimbingan konseling dan riang kepala sekolah, tersusun sejajar dan lurus, yang memudahkan siswa-siswi mengakses ruang-ruang tersebut.
4.1.2 Deskripsi Informan
Informan terdiri dari dua staff sekolah yaitu satu guru atau pengajar bidang ilmu sosiologi, dan satu guru bimbingan konseling dan ketertiban siswa. Dari ke dua informan ini, diharapkan peneliti mampu mendapatkan informasi sebanyak mungkin terkait topik penelitian. Peneliti hanya membatasi dua informan dengan tujuan untuk mendapat informasi yang sesui, dari segi pengalaman melihat realitas siswa-siswi di sekolah serta cara mengajar dan mendidik dengan metode ajar yang berbeda-beda membuat peneliti menggambil keputusan mendalami informasi dari kedua informan tersebut.
Sebagai guru bimbingan konseling, diharapkan informan dapat menjelaskan mengenai sikap dan perilaku siswa-siswi selama dilingkungan sekolah, serta memberikan keterangan terkait upaya pihak sekolah dalam membentuk karakter siswa-siswinya. Sedangkan informan yang diambil dari guru mata ajar sosiologi, hidarapkan informan tersebut dapat memberikan penjelasan mengenai upaya atau metode ajar dalam menyelipkan penerapan hidden curriculum, serta memberikan gambaran kondisi kelas saat proses belajar mengajar. Dan tidak hanya itu, dari kedua informan ini diharapkan akan memberikan menjelasan mengenai bagaimana hidden curriculum mampu diterapkan di lingkungan SMA Hang Tuah 1.
Profil Informan
Nama
Pendidikan Terakhir
Jabatan
Fungsi dan Peran
AW
(38 tahun)
S1 Psikologi Pendidikan dan Bimbingan
Guru Bimbingan Konseling
- Salah satu tugasnya yaitu memberikan pendidikan karakter dan menetapkan peraturan kedisiplinan siswa setiap harinya. Mengecek kehadiran siswa dan melayani segala bentuk pengaduan baik dari siswa maupun orang tua siswa.
PA
(54 tahun)
S1 Pendidikan Sosial
Guru Sosiologi
- Salah satu tugasnya yaitu memberikan tranfer ilmu kepada siswa, dan menetapkan sistem ajar sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan. Selain proses belajar mengajar, juga menjadi salah satu wali murid.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Proses Belajar Mengajar dan Penerapan Hidden Curriculum di Lingkungan Sekolah
Berdasarkan hasil wawancara mendalam terhadap informan serta observasi lapangan yang kami lakukan, dapat diketahui bahwa proses belajar mengajar yang berlangsung di SMA Hang Tuah 1 saat ini menerapkan kurikulum campuran. Artinya disini bahwa, siswa-siswi yang duduk di kelas X mereka sudah menggunakan kurikulum terbaru yakni kurikulum 13, sedangkan untuk kelas XI dan XII mereka masih menggunakan kurikulum KTSP 2006. Hal ini membuat hasil penelitian pun menjadi semakin menarik, karena melalui kurikulum resmi tersebut didapatkan beberpa informasi mengenahi perbedaan penerapan hidden curriculum di kurikulum 13 dengan kurikulum KTSP 2006.
Perbedaan penerapan kurikulum resmi dalam proses belajar mengajar nyatanya memberikan dampak pula pada penerapan hidden curriculum di sekolah tersebut. Sebelum mengarah pada persoalan hidden curriculum akan dijelakan terlebih dahulu mengenahi perbedaan yang nampak jelas pada pemilihan minat atau penjurusan bagi siswa-siswi dalam kurikulum resmi. Dimana dalam kurikulum KTSP 2006 penjurusan dimulai ketika siswa duduk dibangku kelas XI, sedangkan dikurikulum 13 pemilihan jurusan dimulai sejak siswa masuk sekolah dan ditambah dengan adanya jurusan lintas minat. Maksudnya disini adalah, siswa dengan jurusan IPA bisa memilih mata ajar jurusan IPS yang dia sukai. Selain dari pada penjurusan, dalam penerapan kurikulum 13 dan KTSP 2006, juga terdapat perbedaan dari segi guru dan siswa. Kurikulum 13 pemposisikan guru tidak lagi menjadi pusat pembelajaran, akan tetapi ditekankan pada siswa itu sendiri untuk kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan persoalan sekolah.
Hal tersebut sesuai dengan definisi kurikulum menurut Saylor J Gallen dan William N. Alexander yang menyatakan bahwa kurikulum merupakan keseluruan usaha untuk mempengaruhi belajar, baik berlangsung di kelas, di halaman, maupun di luar sekolah (Damsar: 2011). Sebagaiman kurikulum dibuat untuk dapat menyesuaikan diri dalam proses belajar mengajar dan sesuai dengan cita-cita yang diharapkan pembuat kurikulum.
Masuk dalam penerapan hidden curriculum maka kurikulum resmi dijadikan sebagai pengatar bagi siswa dalam mengoptimalkan kemampuan diri, berupa soft skill yang terpendam dalam diri siswa-siswi. Menurut informan “Kalau di dalam pelajaran, itu tergantung guru yang menguasai kelas. Kalau guru menguasai kelas maka siswa bisa belajar dengan baik, tapi kalau guru tidak menguasai kelas, maka siswa tidak kan kondusif. Misalnya ramai, tidak mengikuti pelajaran, keluar kelas. Kalau guru tidak menguasai kelas pastinya siswa juga tidak akan tenang dan baik.” Hal ini menunjukan bahwa model atau cara ajar guru sangatlah mempengaruhi sikap dan perilaku siswa dalam kesehariannya. Apabila guru tidak bisa menguasai kelas dengan baik maka bisa dipastikan siswa tidak akan kondusif dan proses belajar mengajar akan terhambat, selain itu tujuan dari penerapan hidden curriculum tidak akan tercapai. Misalnya saja guru memberikan tugas kepada siswa untuk berdiskusi dan memecahkan masalah, dengan tujuan tersembunyi (hidden curriculum) nya adalah guru ingin menerapkan sikap saling menghargai pendapat dan menyelesaikan masalah dengan jalan musyawarah. Namun upaya guru akan gagal bila guru tidak bisa mengkondisikan proses diskusi dengan baik. Sehingga berdampak pada gagalnya penerapan hidden curriculum.
Hidden curriculum sendiri dibangun dengan tujuan terselubung untuk membentuk siswa yang tidak hanya unggul dalam hal akademis tetapi juga unggul dalam hal akhlak, penguasaan publik, dan soft skill lainnya sesuai dengan keinginan dan maksud penerapan hideen curriculum itu sendiri. Seperti halnya yang diutarakan oleh Pak Panca Agung selaku guru mata ajar sosiologi “Moral, akhlak, kedisiplinan, itukan termasuk pendidikan hidden curriculum sebenarnya juga ada misalnya, mengambil data dilapangan secara langsung untuk melengkapi tugas tugas di sekolah, misalnya melakukan survei wawancara itu kan termasuk hidden curriculum. Termasuk dari diskusi itu tadi juga dapat mengukur keberhasilan penerapan kurikulum tersembunyi, karena siswa mampu berperan dan berperilaku sesuai dengan keadaan sekelilingnya, mau menerima perbedaan, dan pendaapat orang lain. Segala masalah diselesaikan memalui jalan musyawarah, dan masih banyak sebenarnya.” Artinya, bahwa informan menginginkan output dari proses belajar mengajar tidak hanya pada nilai akademis saja, tetapi juga melalui metode ajar  yang diterapkan seperti memakai proyektor, menggunakan literatur, diskusi, tanya jawab, dan mini riset. Sebagai guru sosiologi informan berharap penerapan hidden curriculum dapat tercapai melalui penerapan di atas, yaitu : siswa diharapkan lebih menghargai orang yang ada didepannya, yang menjelaskan materi-materi melalui slide. Selanjutnya siswa diharapkan mampu memberikan kontribusi atau ide-idenya melalui diskusi, menghargai setiap pendapat seseoarang dan menyelesaikan masyalah dengan musyawarah. Sedangkan untuk mini riset sendiri, guru mengharapkan siswa dapat lebih peka dengan kondisi sekelilingnya, mampu memposisikan diri dengan lingkungan sekitarnya dan mampu melihat realitas yang ada dimasyarakat.
Proses belajar mengajar dan penerapan hidden curriculum di sekolah dalam praktiknya berpeluang besar terhadap kemajuan pola pikir siswa, tidak hanya dalam lingkungan sekolahnya tetapi juga di lingkungan masyarakat. Untuk itu, hidden curriculum dinilai sengat membantu dalam tercapainya tujuan dan cita-cita dari kurikulum yang ideal. Sesuai dengan karangka berfikir di atas, bahwasanya kurikulumi ideal mengandung gagasan konseptual tentang apa yang seharusnya dan baik dikandung oleh suatu kurikulum sesuai tujuan pihak yang membuatnya.
Jadi proses belajar mengajar disini membutuhkan peran yang mampu bekerja sama secara seimbang, baik dari guru mapun siswa agar tujuan pendidikan tersampaiakan dengan baik. Selain itu penerapan hidden curriculum juga dapat dirasakan manfaatnya dalam kehidupan bermasyarakat oleh para siswa, sebagai objek dan subjek pembelajaran.

4.2.2 Pengaruh Sekolah Terhadap Tingkah Laku Siswa dalam Penerapan Hidden
        Curriculum
Sekolah berperan penting terhadap keberhasilan dan kesuksesan siswa atau peserta didiknya, karena salah satu tempat sosialisasi yang baik bagi pembentukan karakter siswa adalah di sekolah. Melalui hasil wawancara dengan informan, maka dapat kita ketahui bagaimana sekolah berpengaruh bahkan ikut bertanggungjawab terhadap tingkah laku siswanya. Dengan demikian menjadi penting bila hal ini diarahkan pada penerapan hidden curriculum yang diharapkan sekolah.
Melihat keberagaman yang ada di SMA Hang Tuah 1 dengan latar belakang dan kekhasan masing-masing siswa, tentu tidak mudah bagi pihak siswa bisa mengakomodasi semua siswa menjadi sesuai dengan yang diharapkan. Namun upaya pihak sekolah dalam mengarahkan tingkah laku siswa agar sesuai dengan norma dan nilai masyarakat serta berakhlak mulia dibuktikan melalui adanya materi Etika yang diberikan ketika siswa awal sekolah dalam mengikuti kegiatan Layanan Orientasi Siswa (LOS), mata ajar PPKN yang mendalami materi mengenahi budi pekerti dan menjadi warga negara yang baik, serta mata ajar agama yang menekankan pada nilai-nilai dan muatan akhlak dalam kehidupan di dunia.
Siswa-siswi di SMA Hang Tuah 1 menurut hasil observasi dinilai baik dalam bertingkah laku dan menerapkan nilai, norma serta akhlak yang mulia. Walaupun masih terlihat beberapa siswa yang melanggar aturan dan tata tertib sekolah. Pengaruh yang diberikan pihak sekolah dalam menjalankan perannya sebagai media tempat belajar dan penambah wawasan juga dinilai berhasil. Karena sesuai dengan penerapan hidden curriculum yang diinginkan pihak sekolah menuntut siswa agar disiplin, bertanggungjawab, percaya diri, memiliki komitmen, sopan, kompetitif, mampu berhubungan sosial dengan baik, dan memiliki motivasi tinggi dalam mencari ilmu. Dimana semua ini terangkup dalam proses belajar mengajar serta perlakuan pihak sekolah secara terbuka, yaitu : Pertama, sekolah mengajarkan siswa untuk menerapkan budaya “Senyum, Sapa, Salam” yang berlaku tidak hanya saat bertemu guru, tetapi dengan semua warga sekolah.
Kedua, sekolah memberikan hukuman bagi mereka yang melanggar tata tertib, hukuman diberlakukan untuk memberi efek jera bagi siswa yang melanggar. Selain itu hidden curriculumnya adalah mengajarkan siswa bahwa dia tidak boleh berperilaku semaunya sendiri, karena hukum akan berlaku bagi mereka yang menyimpang dari masyarakat. Jika ada hukuman maka juga ada apresiasi bagi mereka yang mampu menerapkan sikap yang baik, dan mampu berperan sesuai yang dicita-citakan bersama. Ketiga, melalui hidden curriculum siswa juga diajarkan menjadi seorang pemimpin, menjadi seorang yang mampu mandiri, mampu bekerjasama dengan tim, dan mampu menghargai setiap perbedaan. Hal ini nyata terlihat dari kegiatan sekolah diluar pembelajaran, misalnya kegiatan ekstrakulikuler, organisasi-organisasi sekolah, dan kelompok-kelompok lainnya.
Tingkah laku siswa dikatakan sebagai suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya, berupa tindakan ataupun aktivitas berpengaruh baik bagi dirinya maupun sekelilingnya. Hidden curriculum sebagai kurikulum terselubung yang digunakan baik secara sengaja atau tidak oleh pihak sekolah, dinilai mampu mendominasi siswa untuk bertindak dan berperan sesuai tujuan sekolah dalam pendidikan. Dengan semua keterangan informan yang disederhanakan dalam uraian diatas, dapat menjadi bukti bahwasanya hidden curriculum sangat dibutuhkan bagi dunia pendidikan. Dan upaya yang dilakukan pihak sekolah di SMA Hang Tuah 1 dinilai mampu memberikan pengaruh terhadap perilaku para siswanya, walaupun tidak menutup kemungkinan dengan persentase yang kecil, ada saja siswa-siswa yang sulit menerima masukan ilmu dan nilai-nilai yang diberikan pihak sekolah.



BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Pendidikan merupakan aset penting bagi terciptanya generasi yang unggul, namun tidak hanya itu pendidikan juga harus mampu memberikan kelebihan tidak hanya dalam hal ilmu secara akademis melainkan penerapan nila, norma, dan akhlak serta tingka laku yang dapat menunjukan identitas bangsa. Sebagai pihak-pihak yang mensosialisasikan pendidikan, wajib memiliki metode atau cara-cara tertentu agar penerapan hidden curriculum mampu memberikan pengaruh bagi siswa sebagai penerima ilmu.
Pentingnya hidden curriculum juga memberikan kontribusi yang besar bagi kemampuan-kemampuan diluar dugaan yang dimiliki siswa, terlebih dalam hal keterampilan dan penguasaan publik. Selain itu hidden curriculum juga dinilai sebagai salah satu indikator keberhasilan sekolah dalam melakukan proses belajar mengajar dan tranfers pengetahuan.
5.2 Saran
Bagi seluruh pihak sekolah yang telah melakukan tugas sebagai media sosialisasi bagi siswa-siswi, yang dipercayakan untuk memberikan pendidikan sekaligus pengasuhan bagi mereka, selain terus mengupayakan cara atau metode ajar yang bisa diterma siswa dan mudah diterapkan dalam proses belajar mengajar. Sekolah juga penting melakukan evalusi yang ditujuan bagi guru, siswa, dan ketepatan penggunaan kurikulum yang nantinya akan mengara pada diselipkannya kerikulum tersembunyi (hidden curriculum).
Pencapaian dan keberhasilan yang nantinya dijadikan output akan sangat terasa jika semua pihak yang ada di dalamnya mampu bekerjasama dengan baik, tidak hanya itu dibutuhkan juga pendampingan pihak orang tua siswa, agar upaya guru bisa berjalan seimbang dengan harapan orang tua siswa.




DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku
Damsar (2011). “Pengantar Sosiologi Pendidikan”. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Dimyati, Mudjiono. 2006. Belajar dan pembelajaran. Jakarta. Rineka cipta.

Sumber Internet

Andriani, Rini. November 2014. “Peran Guru dalam Pembelajaran Menurut Paradigma Konstruktivistik”. From www.membumikanpendidikan.com/2014/11/peran-guru-dalam-pembelajaran-menurut.html?m=1. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2016
Asmara, I Made Y. November 2014. “Peran Guru dan Murid dalam Proses belajar mengajar sesuai standar proses pembelajaran”. From http://imadeyudhaasmara.wordpress.com/2014/11/12/peran-guru-dan-murid-dalam-proses-belajar-mengajar--sesuai-standar-proses-pembelajaran/. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2016.
Budianto. Mei 2015. “Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curriculum)”. From www.budhii.web.id/2015/05/kurukulum-tersembunyi.html?m=1. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2016.
Pratiwi, Esti Rahma. Maret 2016. “Pengaruh Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curriculum) Terhadap Pembentukan Karakter Siswa Kelas VIII di SMP IT Masjid Syuhada’Kotabaru Yogyakarta”. Skripsi. From Digilib.uin-suka.ac.id/21710/. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2016.


No comments:

Post a Comment