Laporan Mini Riset Sosiologi Pendidikan
PROSES BELAJAR MENGAJAR DAN PENERAPAN HIDDEN
CURRICULUM
DI LINGKUNGAN SMA HANG TUAH 1 SURABAYA
DI LINGKUNGAN SMA HANG TUAH 1 SURABAYA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Larat belakang
Pendidikan merupakan aset terpenting dalam menciptakan regenerasi
yang mumpuni, dalam artian mampu bersaing tidak hanya pada rana nasional tatapi
secara internasional. Pendidikan merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan
yang berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat menunjukan potensi
dirinya dan mengontrol tindakannya. Bicara soal pendidikan, maka akan berbicara
mengenahi pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal adalah pendidikan
yang diselenggarakan di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya, pendidikan ini
adalah model pendidkan yang nyata terlihat dalam kehidupan. Akan tetapi juga
terdapat pendidikan non formal yang harus mendapatkan perhatian serupa. Karena
dari penerapan pendidikan non formal inilah nilai, norma, moral atau etika dan
tata cara berperilaku setiap individu diatur. Baik sekolah maupun instansi
pendidikan tinggi selalu memiliki kurikulum yang ditetapkan dalam menjalankan
proses transfers of knowledge kepada pihak-pihak penerima transfers, selain itu
juga akan muncul penerapan hidden curriculum yang berjalan beriringan
dengan penerapan kurikulum formal.
Hidden Curriculum, merupakan
wujud kurikulum yang menginginkan hasil lebih berupa skill pada pesert didik,
dapat diartikan sebagai kurikulum yang tidak terprogram, namun kurikulum ini
nampak ada dalam penerapan individu di kelas dan sekolah. Artinya, perilaku
yang muncul dapat berupa perilaku di luar tujuan yang dideskripsikan oleh guru.
Selain itu, kurikulum terdembunyi (Hidden Curriculum) juga bisa
dijadikan sebagai alat kontrol bagi penerapan nialai-norma yang di cita-citakan
bersama. Melihat peran sekolah yang mulai meningkatkan perannya dalam mengatur
para siswanya baik dari segi akademis dan non akademis, maupun dari segi
ketaatan, penerapan nilai dan norma, serta moral atau etika.
Secara
akademis seorang siswa dikatakan mampu unggul dengan baik, tetapi tidak menutup
kemungkinan seorang siswa ini sangat rendah dalam penerapan nilai-nilai
moralnya. Begitu juga sebaliknya, namun juga tidak sedikit para siswa yang
dicap atau berlebel tidak pintar dan berperilaku buruk.
Seperti halnya kondisi SMA Hang Tuah 1 yang menjadi objek
pnelitian. Saat ini sekolah tersebut sedang dalam pembangunan baik fisik maupun
non fisik. Pembangunan fisik seperti pembagunan gedung kelas perhotelan,
masjid, dan lain sebagainya. Sedarkan untuk non fisik, lebih diterapkan para
pendidikan karakter untuk menstimulasi siswa-siswi agar mampu menerapkan
nilai-nilai serta norma, dan akhlak yang mulia baik dalam kehidupan di
lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan yang akan datang di lingkungan
masyarakat secara luas. Jadi sekolah harus mampu menjadi wadah tidak hanya
dalam mencerdaskan siswa-siswanya namun juga dalam menerapkan nilai, moral dan
tingka laku yang andhap asor dan berkarakter.
Dengan demikian menjadi penting jika sekolah juga memiliki
cita-cita dalam penerapan kurikulumnya melalui salah satunya adalah kurikulum
tersembunyi (Hideen Curriculum). Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh
Esti Rahma Pratiwi (2016) dalam skripsinya berjudul “Pengaruh kurikulum
tersembunyi terhadap pembentukan karakter siswa kelas VIII di SMP IT Masjid
Syuhada’ Kota Baru Yogyakarta” dikatakan bahwa Hidden Curriculum dapat
memberikan pengaruh terhadap karakter siswa dalam memahami lingkungannya
sosialnya. Serta diketahui adanya hubungan yang positif anatara Hidden
Curriculum dengan karakter siswa dan dapat dijadikan alat kontrol atau
pengawasan yang intensif dalam penerapannya di sekolah. Perbedaan mini riset
ini dengan penelitian terdahulu terletak pada pembentukan karakter siswa yang
diangkat dalam judul skripsi diatas, sedangkan mini riset ini ingin menjelaskan
”proses belajar mengajar dan penerapan hidden curriculum di
lingkungan sekolah”.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas maka peneliti menarik beberapa rumusan masalah sebagai
berikut :
1.
Bagaimana proses
belajar mengajar dan penerapan hidden curriculum di lingkungan sekolah ?
2.
Apakah
penerapan hidden curriculum mampu memberikan perubahan pada tingkah laku
siswa ?
1.3
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut :
1.
Untuk
menjelaskan proses belajar mengajar dan penerapan hidden curriculum yang
terjadi di lingkungan sekolah.
2.
Untuk menjelaskan
peran hidden curriculum terhadap perubahan tingkah laku siswa.
1.4
Manfaat
Penelitian
Manfaat
yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut, yaitu :
1.
Bagi Mahasiswa
Adapun manfaat bagi mahasiswa adalah :
1.
Untuk mendidik
mahasiswa agar mampu mengetahui secara langsung tentang praktek hidden
curriculum dan berpikir kritis dalam menyikapi realita yang ada dalam
kehidupan di lingkungan sekolah khususnya dan lingkungan masyarakat luas pada
umunya.
2.
Untuk
mengengbangkan wawasan dan disiplin ilmu baik secara teori maupun pratek yang
berhubungan dengan bidang sosiologi pendidikan, agar tidak bersifat abstraksi.
2.
Bagi masyarakat
Adapun manfaat bagi masyarakat adalah :
1.
Dengan adanya
penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait penerapan hidden
curriculum di lingkungan sekolah.
2.
Agar dapat
memberikan motivasi kepada siswa sebagi subjek penelitian untuk mampu
berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Tinjauan
Pustaka
Dalam studi ini
kami menggunakan beberapa acuan teori yang nantinya dapat menjawab realitas
mengenahi pengaruh transfers of knowledge guru terhadap siswa dalam penerapan hidden
curriculum di Lingkungan Sekolah. Adapun beberapa teori yang kami gunakan
untuk melihat peran guru atau pihak sekolah dalam memberikan sumbangsih
pengetahuannya kepada siswa meliputi :
1.
Kurikulum
Definisi kurikulum menurut Saylor J
Gallen dan William N. Alexander merupakan keseluruan usaha untuk mempengaruhi
belajar, baik berlangsung di kelas, di halaman, maupun di luar sekolah (Damsar:
2011). Beberapa pakar pendidikan dan sosiologi pendidikan telah mengkonstruksi
berbagai tipe kurikulum berdasarkan sudut pandang dan pemikiran yang berbeda.
Untuk mengkaji topik bahasan penelitian ini, maka tipologi kurikulum dilihat
berdasarakan harapan kenyataannya. Dimana berdasarkan harapan kenyataan,
kurikulum dapat dibagi ke dalam kurikulum ideal dan real (aktual).
a.
Kurikulumi
ideal
Kurikulum
yang dicita-citakan dan diharapkan oleh banyak oarang, paling tidak oleh para
pembuatnya. Mengandung gagasan konseptual tentang apa yang seharusnya dan baik
dikandung oleh suatu kurikulum. Kurikulum ini tercantum dalam dokumen resmi
yang dimiliki oleh suatu lembaga pendidikan. Dalam konteks Indonesia di contohkan
melalui adanya kurikulum nasioanal dan kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP) atau baru-baru ini yang dikenal dengan kurikulum 13 (K-13).
b.
Kurikulum real
(aktual)
Kurikulum
yang diimplementasikan dalam pendidikan, pembelajaran, dan pengajaran. Kenyataan
(realitas) memiliki kecenderungan yang tidak selalu sesuai dengan yang
diharapkan atau dicita-citakan. Misalnya apa yang telah diamanatkan dalam
kurikulum nasional atau KTSP, dalam kenyataan belum tentu persis sama seperti
apa yang dilaksanakan di dalam kelas atau di sekolah. Tentunya, semakin dekat
persamaan dan kesamaan antara kurikulum ideal dan real, maka semakin baik dan
tepat pencapaian suatu kurikulum.
2.
Hidden
curriculum (Kurikulum
Tersembunyi)
Kurikulum tersembunyi (Hidden
Curriculum) menurut Ballantine (1983: 178), dikembangkan oleh Benson Snyder
(1971) hidden curriculum menunjuk pada permintaan implisit (sebagai lawan dari
kewajiban eksplisit dari ‘kurikulum tampak’ (visible curriculum) yang ditemukan
pada setiap institusi pembelajaran dan yang mana (maha)siswa harus mengetahui
dan menanggapi sehingga dapat bertahan didalamnya. Kurikulum tersembunyi
merujuk pada peraturan, regulasi dan rutin yang mana partisipan sekolah mesti
menyesuaikan diri. Itu dapat dilihat melalui bagaimana ruang kelas
diorganisasi, sistem penghargaan, dan sosialisasi moral berlangsung melalui
peratuaran, regulasi, dan rutin (Damsar: 2011).
Hidden curriculum juga dapat
diartikan sebagai kurikulum yang tidak terprogram, namun kurikulum ini nampak
ada dalam penerapan individu di kelas dan sekolah. Artinya, perilaku yang
muncul dapat berupa perilaku di luar tujuan yang dideskripsikan oleh guru.
Selain itu, kurikulum terdembunyi (Hidden Curriculum) juga bisa
dijadikan sebagai alat kontrol bagi penerapan nialai-norma yang di cita-citakan
bersama. Ada dua aspek yang dapat mempengaruhi perilaku sebagai Hidden
Curriculum, yaitu :
1.
Aspek relatif
tetap, artinya terdapat ideologi, keyakinan, nilai budaya masyarakat yang dapat
mempengaruhi sekolah termasuk di dalamnya menentukan budaya apa yang patutdan
tidak patut diwariskan oleh generasi bangsa.
2.
Aspek yang
dapat berubah, artinya aspek-aspek ini meliputi variabel organisasi sistem
sosial dan kebudayaan. Dimana variabel organisasi terdiri dari bagaimana cara
guru mengelola kelas, bagaimana pelajaran diberikan, bagaimana kenaikan kelas
dilakukan. Sedangkan sistem sosial meliputi pola hubungan sosial antar guru,
guru dengan siswa, guru dengan staf sekolah, dan lain sebagainya.
3.
Peran
Peran (role) merupakan aspek yang
dinamis dari kedudukan (status). Peranan dapat membimbing seseorang dalam
berperilaku, karena fungsi peran itu sendiri dapat memberi arah pada proses
sosialisasi; pewarisan nilai, norma dan pengetahuan; pemersatu kelompok atau
masyarakat; serta menghidupkan sistem pengendali dan kontrol (J. Dwi Narwoko
& Bagong Suyanto: 2004). Dalam penelitian ini yang lebih menjadi fokus
adalah perana guru dan siswa sebagai aktor pendidkan, dimana peranan guru dalam
pembelajaran dapat diartikan sebagai fasilitator, namun tidak hanya itu guru
juga dapat disebut sebagai expert learners, manager, dan sebagai mediator.
Sebagai expert learners guru
diharapkan memiliki pemahaman mendalam tentang materi pembelajaran, menyediakan
waktu yang cukup bagi siswa, menyediakan masalah dan alternatif solusi, merubah
strategi ketika siswa sulit mencapai tujuan (pemahaman), dan psikomotor siswa.
Sebagai manager, guru berkewajiban memonitoring hasil belajar siswa,
memonitoring disiplin kelas, dan hubungan interpersonal, serta memonitoring
ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas. Sedangkan sebagai mediator, guru
memandu para siswa mengembangkan sikap positif terhadap belajar, sampai
pemodelan proses berpikir dengan menunjukan kepada siswa untuk ikut berpikir
kritis. Selain guru juga ada keterlibatan siswa di dalamnya, keterlibatan siswa
di artikan sebagai peran aktif dalam berpartisipasi dalam proses belajar
mengajar.
Menurut Dimjati dan Mudjiono (1994)
keterlibatan atau peran siswa dapat didorong oleh peran guru. Adapun kualitas
dan kuantitas peran siswa dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu internal dan
eksternal. Faktor internal meliputi faktor fisik, motivasi belajar, kepentingan
dalam aktivitas yang diberikan, kecerdasan dan sebagainya. Sedangkan faktor
eksternal meliputi guru, materi pembelajaran, media, alokasi waktu, fasilitas
dan sebagainya.
2.2
Kerangka
Berfikir
Pengaruh
transfer of knowladge yang diberikan guru terhadap siswa merupakan hal yang
penting, karena hubungan didalamnya akan memberikan dampak bagi pengetahuan
siswa akan proses belajar mengajar yang berlangsung bahkan yang sudah
berlangsung sekalipun. Pada dasarnya peran guru maupun pihak sekolah dalam
mengarahkan siswa agar sesuai dengan yang dicita-citakan, merupakan bagian dari
peran-peran sosial yang dijalani. Pendidikan yang semakin lama semakin
berkembang juga menuntun perkembangan pola mengajar guru dan pola belajar siswa
di lingkungan sekolahnya. Dengan adanya kurikulum, diharapka proses belajar
mengajar dapat lebih terarah dan terstruktur, serta mampu diterapkan sebaik
mungkin. Sedangkan hidden curriculum sendiri menjadi penanda bahwa tidak hanya ilmu
atau pengetahuan formal saja yang menjadi target pembelajaran, melainkan
nilai-norma serta akhlak juga harus dibangung dalam diri siswa.
Dalam rangka
menjelaskan proses belajar mengajar serta mengetahui seberapa besar pengaruh
sekolah terhadap tingkah laku siswa dalam penerapan hidden curriculum., maka
perlu dilakukan tindakan yang dapat mengarah pada keberhasilan
penerapan-penerapan hidden curriculum dengan prosedur kurikulum pendidikan saat
ini. Dari penelitian ini diharapkan mampu mengeksplor lebih jauh lagi mengenahi
permasalahan yang berkenaan dengan proses belajar mengajar, dan penerapan
hidden curriculum di sekolah.
2.3 Definisi Konseptual
1.
Pendidikan
Pendidikan
merupakan tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak yang bermaksud menuntut
dalam segala kekuatan kodrati pada
anak-anak itu supaya mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat mampu
menggapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
2.
Peran
Peran
merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Peranan dapat membimbing
seseorang dalam berperilaku, karena fungsi peran itu sendiri dapat memberi arah
pada proses sosialisasi; pewarisan nilai, norma dan pengetahuan; pemersatu
kelompok atau masyarakat; serta menghidupkan sistem pengendali dan kontrol.
3.
Perilaku
Diartikan
sebagai suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya, berupa tindakan
ataupun aktivitas yang dapat berupa sekolah, kuliah, membaca, menulis,
berbicara, dan lain sebagainya.
4.
Hidden
curriculum
Menunjuk pada
pratek dan hasil persekolahan yang tidak diuraikan dalam kurikulum terprogram
atau petunjuk kurikulum kebijakan sekolah, namun merupakan bagian yang tidak
teratur dan efektif mengenahi pengalaman sekolah.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
1.1
Tipe Penelitian
Tipe penelitian Sosilogi Pendidikan ini tergolong dalam penelitian kualitatif
bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif dimaksudkan untuk memberikan gambaran, realitas sosial tertentu. Untuk
menjelaskan proses belajar mengajar dan
penerapan hidden curriculum di lingkungan sekolah
terutama di lokasi penelitian yaitu SMA Hang Tuah 1, surabaya.
1.2
Lokasi dan
Waktu Penelitian
Untuk
memahami tugas mata kuliah Sosiologi Pendidikan, maka diadakan mini riset
Sosiologi Pendidikan yang diselenggarakan pada :
Hari : Sabtu
Tanggal : 29 Oktober 2016
Lokasi : SMA Hang Tuah 1 Surabaya
Pemilihan
lokasi ini didasarkan atas beberapa pertimbangan, yaitu : lokasi dinilai
mewakili pemenuhan jawaban bagi peneliti mengenai proses belajar mengajar
terhadap siswa dalam penerapan hidden curriculum, serta lokasi
disesuaikan dengan kondisi peneliti dimana lokasi ini dipilih karena tidak jauh
dari rumah maupun tempat kuliah peneliti.
1.3 Sumber Data
Sumber
data yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah sumber data-data primer dan sekunder,
diantaranya :
1. Data primer
Data primer adalah data yang didapat
langsung dari peneliti, sumber data primer yang digunakan dalam penelitian
meliputi : Informasi dari guru sebagai pengajar yang tau kondisi siswa
setempat. Informasi dari guru bimbingan konseling sebagai media informasi
mengenahi perilaku siswa-siswi setiap harinya, yang dianggap mengetahui kondisi
fisik dan psikis murid-muridnya.
2. Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang didapat
secara tidak langsung dari sumbernya. Dalam penelitian ini sumber data sekunder
yang dipakai adalah sumber tertulis seperti buku, makalah ilmiah, jurnal, dan
dokumen dari pihak yang terkait mengenahi masalah yang penulis angkat.
1.4
Populasi dan
Sampel
Sampel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah individu yaitu pihak-pihak yang
terkait dalam intansi di SMA Hang Tuah-1 Surabaya. Dalam penelitian kualitatif
sampel bukan mewakili populasi, sehingga tidak ditentukan berdasarkan ketentuan
yang mutlak, tetapi sampel berfungsi untuk menggali beragam informasi yang
penting dan dibutuhkan peneliti dilapangan. Dalam penelitian ini teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah non probabilitas purposive sampling
dimana peneliti mempunyai peranan paling besar dalam menentukan siapa dan
berapa sampling yang digunakan.
1.5
Teknik
Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah dengan melakukan observasi
langsung, dengan terjun langsung ke lokasi penelitian untuk mengamati semua
aktivitas yang dilakukan selama proses belajar mengajar. Selanjutnya peneliti
melakukan wawancara mendalam (indept interview), dalam hal ini wawancara
dilakukan secara tidak terstruktur. Dan yang terakhir adalah dokumentasi berupa
foto yang berfungsi untuk melengkapi data sekunder yang dibutuhkan peneliti
dilapangan.
1.6
Teknik Analisis
Data
Data diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentsi. Dalam
penelitian ini teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam artinya peneliti
memberikan pertanyaan kepada informan secara mendalam sesuai dengan fokus
permasalahan. Teknik yang diguanakan dalam indepth interview ini menggunakan
data primer dan data sekunder. Dari gambaran umum tersebut kemudian dilakukan
pemilahan atau klasifikasi, dan diperoleh klasifikasi terhadap hidden
curriculum di lokasi penelitian yaitu sekolah. Dengan cara menyederhanakan
data tersebut, sehingga data tersebut dapat diinterpretasikan dan dapat
dipertanggungjawabkan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Deskripsi
Lokasi Penelitian
SMA Hang Tuah-1
Surabaya merupakan bagian dari lingkungan di bawah kendali Yayasan Hang Tuah,
tepatnya cabang Suarabaya. Dalam hal ini peneliti memilih lingkungan ini karena
lingkup yang lebih kecil dan mudah diakses karena tidak jauh dari wilayah
kampus. Salain itu alasan lain yang mendasari adalah masalah waktu dan
mobilitas yang dianggap mudah untuk ditempuh dan tidak mengganggu selama proses
perkuliahan peneliti. SMA Hang Tuah 1 saat ini sedang dalam proses membangunan,
seperti pembangunan gedung perhotelan, masjid, dan lain sebagainya. Lokasi yang
bertempat di wilayah perumahan TNI dan berdekatan dengan pure serta sekolah
dasar, dan akses keluar yang langsung berhadapan dengan jalan raya.
Ruang kelas
yang berukuran besar memuat hampir 50 siswa di dalamnya, lokasi sekolah yang
luas dan bagunan di buat mengelilingi lapangan upacara. Kantin yang dibuat
seperti stand di pertokoan, dan gazebo yang di desain minimalis tapi indah.
Ruang laboratorium fisika, laboratorium komputer dan sebagainya, dibuat sesuai
kebutuhan siswa-siswinya. Ruang Tata Usaha yang berdampingan dengan ruang
bimbingan konseling dan riang kepala sekolah, tersusun sejajar dan lurus, yang
memudahkan siswa-siswi mengakses ruang-ruang tersebut.
4.1.2 Deskripsi Informan
Informan
terdiri dari dua staff sekolah yaitu satu guru atau pengajar bidang ilmu
sosiologi, dan satu guru bimbingan konseling dan ketertiban siswa. Dari ke dua
informan ini, diharapkan peneliti mampu mendapatkan informasi sebanyak mungkin
terkait topik penelitian. Peneliti hanya membatasi dua informan dengan tujuan
untuk mendapat informasi yang sesui, dari segi pengalaman melihat realitas
siswa-siswi di sekolah serta cara mengajar dan mendidik dengan metode ajar yang
berbeda-beda membuat peneliti menggambil keputusan mendalami informasi dari
kedua informan tersebut.
Sebagai guru
bimbingan konseling, diharapkan informan dapat menjelaskan mengenai sikap dan
perilaku siswa-siswi selama dilingkungan sekolah, serta memberikan keterangan
terkait upaya pihak sekolah dalam membentuk karakter siswa-siswinya. Sedangkan
informan yang diambil dari guru mata ajar sosiologi, hidarapkan informan
tersebut dapat memberikan penjelasan mengenai upaya atau metode ajar dalam
menyelipkan penerapan hidden curriculum, serta memberikan gambaran
kondisi kelas saat proses belajar mengajar. Dan tidak hanya itu, dari kedua
informan ini diharapkan akan memberikan menjelasan mengenai bagaimana hidden
curriculum mampu diterapkan di lingkungan SMA Hang Tuah 1.
Profil Informan
Nama
|
Pendidikan Terakhir
|
Jabatan
|
Fungsi dan Peran
|
AW
(38 tahun)
|
S1 Psikologi
Pendidikan dan Bimbingan
|
Guru
Bimbingan Konseling
|
- Salah satu
tugasnya yaitu memberikan pendidikan karakter dan menetapkan peraturan
kedisiplinan siswa setiap harinya. Mengecek kehadiran siswa dan melayani
segala bentuk pengaduan baik dari siswa maupun orang tua siswa.
|
PA
(54 tahun)
|
S1 Pendidikan
Sosial
|
Guru
Sosiologi
|
- Salah satu
tugasnya yaitu memberikan tranfer ilmu kepada siswa, dan menetapkan sistem
ajar sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan. Selain proses belajar mengajar,
juga menjadi salah satu wali murid.
|
4.2 Pembahasan
4.2.1 Proses
Belajar Mengajar dan Penerapan Hidden Curriculum di Lingkungan Sekolah
Berdasarkan
hasil wawancara mendalam terhadap informan serta observasi lapangan yang kami
lakukan, dapat diketahui bahwa proses belajar mengajar yang berlangsung di SMA
Hang Tuah 1 saat ini menerapkan kurikulum campuran. Artinya disini bahwa,
siswa-siswi yang duduk di kelas X mereka sudah menggunakan kurikulum terbaru
yakni kurikulum 13, sedangkan untuk kelas XI dan XII mereka masih menggunakan
kurikulum KTSP 2006. Hal ini membuat hasil penelitian pun menjadi semakin
menarik, karena melalui kurikulum resmi tersebut didapatkan beberpa informasi
mengenahi perbedaan penerapan hidden curriculum di kurikulum 13 dengan
kurikulum KTSP 2006.
Perbedaan
penerapan kurikulum resmi dalam proses belajar mengajar nyatanya memberikan
dampak pula pada penerapan hidden curriculum di sekolah tersebut.
Sebelum mengarah pada persoalan hidden curriculum akan dijelakan
terlebih dahulu mengenahi perbedaan yang nampak jelas pada pemilihan minat atau
penjurusan bagi siswa-siswi dalam kurikulum resmi. Dimana dalam kurikulum KTSP
2006 penjurusan dimulai ketika siswa duduk dibangku kelas XI, sedangkan
dikurikulum 13 pemilihan jurusan dimulai sejak siswa masuk sekolah dan ditambah
dengan adanya jurusan lintas minat. Maksudnya disini adalah, siswa dengan
jurusan IPA bisa memilih mata ajar jurusan IPS yang dia sukai. Selain dari pada
penjurusan, dalam penerapan kurikulum 13 dan KTSP 2006, juga terdapat perbedaan
dari segi guru dan siswa. Kurikulum 13 pemposisikan guru tidak lagi menjadi
pusat pembelajaran, akan tetapi ditekankan pada siswa itu sendiri untuk kreatif
dan inovatif dalam menyelesaikan persoalan sekolah.
Hal tersebut
sesuai dengan definisi kurikulum menurut Saylor J Gallen dan William N.
Alexander yang menyatakan bahwa kurikulum merupakan keseluruan usaha untuk
mempengaruhi belajar, baik berlangsung di kelas, di halaman, maupun di luar
sekolah (Damsar: 2011). Sebagaiman kurikulum dibuat untuk dapat menyesuaikan
diri dalam proses belajar mengajar dan sesuai dengan cita-cita yang diharapkan
pembuat kurikulum.
Masuk dalam penerapan hidden curriculum maka kurikulum resmi
dijadikan sebagai pengatar bagi siswa dalam mengoptimalkan kemampuan diri,
berupa soft skill yang terpendam dalam diri siswa-siswi. Menurut
informan “Kalau di dalam pelajaran, itu tergantung guru yang
menguasai kelas. Kalau guru menguasai kelas maka siswa bisa belajar dengan
baik, tapi kalau guru tidak menguasai kelas, maka siswa tidak kan kondusif.
Misalnya ramai, tidak mengikuti pelajaran, keluar kelas. Kalau guru tidak
menguasai kelas pastinya siswa juga tidak akan tenang dan baik.” Hal ini
menunjukan bahwa model atau cara
ajar guru sangatlah mempengaruhi sikap dan perilaku siswa dalam kesehariannya.
Apabila guru tidak bisa menguasai kelas dengan baik maka bisa dipastikan siswa
tidak akan kondusif dan proses belajar mengajar akan terhambat, selain itu
tujuan dari penerapan hidden curriculum tidak akan tercapai. Misalnya
saja guru memberikan tugas kepada siswa untuk berdiskusi dan memecahkan
masalah, dengan tujuan tersembunyi (hidden curriculum) nya adalah guru
ingin menerapkan sikap saling menghargai pendapat dan menyelesaikan masalah
dengan jalan musyawarah. Namun upaya guru akan gagal bila guru tidak bisa
mengkondisikan proses diskusi dengan baik. Sehingga berdampak pada gagalnya
penerapan hidden curriculum.
Hidden curriculum sendiri
dibangun dengan tujuan terselubung untuk membentuk siswa yang tidak hanya
unggul dalam hal akademis tetapi juga unggul dalam hal akhlak, penguasaan
publik, dan soft skill lainnya sesuai dengan keinginan dan maksud
penerapan hideen curriculum itu sendiri. Seperti halnya yang diutarakan
oleh Pak Panca Agung selaku guru mata ajar sosiologi “Moral, akhlak,
kedisiplinan, itukan termasuk pendidikan hidden curriculum sebenarnya
juga ada misalnya, mengambil data dilapangan secara langsung untuk melengkapi
tugas tugas di sekolah, misalnya melakukan survei wawancara itu kan termasuk hidden
curriculum. Termasuk dari diskusi itu tadi juga dapat mengukur keberhasilan
penerapan kurikulum tersembunyi, karena siswa mampu berperan dan berperilaku
sesuai dengan keadaan sekelilingnya, mau menerima perbedaan, dan pendaapat
orang lain. Segala masalah diselesaikan memalui jalan musyawarah, dan masih
banyak sebenarnya.” Artinya, bahwa informan menginginkan output dari proses
belajar mengajar tidak hanya pada nilai akademis saja, tetapi juga melalui
metode ajar yang diterapkan seperti
memakai proyektor, menggunakan literatur, diskusi, tanya jawab, dan mini riset.
Sebagai guru sosiologi informan berharap penerapan hidden curriculum dapat
tercapai melalui penerapan di atas, yaitu : siswa diharapkan lebih menghargai
orang yang ada didepannya, yang menjelaskan materi-materi melalui slide.
Selanjutnya siswa diharapkan mampu memberikan kontribusi atau ide-idenya
melalui diskusi, menghargai setiap pendapat seseoarang dan menyelesaikan
masyalah dengan musyawarah. Sedangkan untuk mini riset sendiri, guru
mengharapkan siswa dapat lebih peka dengan kondisi sekelilingnya, mampu
memposisikan diri dengan lingkungan sekitarnya dan mampu melihat realitas yang
ada dimasyarakat.
Proses belajar mengajar dan penerapan hidden curriculum di
sekolah dalam praktiknya berpeluang besar terhadap kemajuan pola pikir siswa,
tidak hanya dalam lingkungan sekolahnya tetapi juga di lingkungan masyarakat.
Untuk itu, hidden curriculum dinilai sengat membantu dalam tercapainya
tujuan dan cita-cita dari kurikulum yang ideal. Sesuai dengan karangka berfikir
di atas, bahwasanya kurikulumi ideal mengandung gagasan konseptual tentang apa
yang seharusnya dan baik dikandung oleh suatu kurikulum sesuai tujuan pihak
yang membuatnya.
Jadi proses belajar mengajar disini membutuhkan peran yang mampu
bekerja sama secara seimbang, baik dari guru mapun siswa agar tujuan pendidikan
tersampaiakan dengan baik. Selain itu penerapan hidden curriculum juga
dapat dirasakan manfaatnya dalam kehidupan bermasyarakat oleh para siswa,
sebagai objek dan subjek pembelajaran.
4.2.2 Pengaruh Sekolah Terhadap Tingkah Laku Siswa dalam Penerapan
Hidden
Curriculum
Curriculum
Sekolah
berperan penting terhadap keberhasilan dan kesuksesan siswa atau peserta
didiknya, karena salah satu tempat sosialisasi yang baik bagi pembentukan
karakter siswa adalah di sekolah. Melalui hasil wawancara dengan informan, maka
dapat kita ketahui bagaimana sekolah berpengaruh bahkan ikut bertanggungjawab
terhadap tingkah laku siswanya. Dengan demikian menjadi penting bila hal ini
diarahkan pada penerapan hidden curriculum yang diharapkan sekolah.
Melihat
keberagaman yang ada di SMA Hang Tuah 1 dengan latar belakang dan kekhasan
masing-masing siswa, tentu tidak mudah bagi pihak siswa bisa mengakomodasi
semua siswa menjadi sesuai dengan yang diharapkan. Namun upaya pihak sekolah
dalam mengarahkan tingkah laku siswa agar sesuai dengan norma dan nilai
masyarakat serta berakhlak mulia dibuktikan melalui adanya materi Etika yang
diberikan ketika siswa awal sekolah dalam mengikuti kegiatan Layanan Orientasi
Siswa (LOS), mata ajar PPKN yang mendalami materi mengenahi budi pekerti dan
menjadi warga negara yang baik, serta mata ajar agama yang menekankan pada
nilai-nilai dan muatan akhlak dalam kehidupan di dunia.
Siswa-siswi di
SMA Hang Tuah 1 menurut hasil observasi dinilai baik dalam bertingkah laku dan
menerapkan nilai, norma serta akhlak yang mulia. Walaupun masih terlihat
beberapa siswa yang melanggar aturan dan tata tertib sekolah. Pengaruh yang
diberikan pihak sekolah dalam menjalankan perannya sebagai media tempat belajar
dan penambah wawasan juga dinilai berhasil. Karena sesuai dengan penerapan hidden
curriculum yang diinginkan pihak sekolah menuntut siswa agar disiplin,
bertanggungjawab, percaya diri, memiliki komitmen, sopan, kompetitif, mampu
berhubungan sosial dengan baik, dan memiliki motivasi tinggi dalam mencari
ilmu. Dimana semua ini terangkup dalam proses belajar mengajar serta perlakuan
pihak sekolah secara terbuka, yaitu : Pertama, sekolah
mengajarkan siswa untuk menerapkan budaya “Senyum, Sapa, Salam” yang berlaku
tidak hanya saat bertemu guru, tetapi dengan semua warga sekolah.
Kedua, sekolah memberikan hukuman bagi mereka yang melanggar tata tertib,
hukuman diberlakukan untuk memberi efek jera bagi siswa yang melanggar. Selain
itu hidden curriculumnya adalah mengajarkan siswa bahwa dia tidak boleh
berperilaku semaunya sendiri, karena hukum akan berlaku bagi mereka yang
menyimpang dari masyarakat. Jika ada hukuman maka juga ada apresiasi bagi
mereka yang mampu menerapkan sikap yang baik, dan mampu berperan sesuai yang
dicita-citakan bersama. Ketiga, melalui hidden curriculum siswa
juga diajarkan menjadi seorang pemimpin, menjadi seorang yang mampu mandiri,
mampu bekerjasama dengan tim, dan mampu menghargai setiap perbedaan. Hal ini
nyata terlihat dari kegiatan sekolah diluar pembelajaran, misalnya kegiatan
ekstrakulikuler, organisasi-organisasi sekolah, dan kelompok-kelompok lainnya.
Tingkah laku
siswa dikatakan sebagai suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya,
berupa tindakan ataupun aktivitas berpengaruh baik bagi dirinya maupun
sekelilingnya. Hidden curriculum sebagai kurikulum terselubung yang
digunakan baik secara sengaja atau tidak oleh pihak sekolah, dinilai mampu
mendominasi siswa untuk bertindak dan berperan sesuai tujuan sekolah dalam
pendidikan. Dengan semua keterangan informan yang disederhanakan dalam uraian
diatas, dapat menjadi bukti bahwasanya hidden curriculum sangat
dibutuhkan bagi dunia pendidikan. Dan upaya yang dilakukan pihak sekolah di SMA
Hang Tuah 1 dinilai mampu memberikan pengaruh terhadap perilaku para siswanya,
walaupun tidak menutup kemungkinan dengan persentase yang kecil, ada saja
siswa-siswa yang sulit menerima masukan ilmu dan nilai-nilai yang diberikan
pihak sekolah.
BAB V
KESIMPULAN
5.1
Kesimpulan
Pendidikan
merupakan aset penting bagi terciptanya generasi yang unggul, namun tidak hanya
itu pendidikan juga harus mampu memberikan kelebihan tidak hanya dalam hal ilmu
secara akademis melainkan penerapan nila, norma, dan akhlak serta tingka laku
yang dapat menunjukan identitas bangsa. Sebagai pihak-pihak yang
mensosialisasikan pendidikan, wajib memiliki metode atau cara-cara tertentu
agar penerapan hidden curriculum mampu memberikan pengaruh bagi siswa
sebagai penerima ilmu.
Pentingnya hidden
curriculum juga memberikan kontribusi yang besar bagi kemampuan-kemampuan
diluar dugaan yang dimiliki siswa, terlebih dalam hal keterampilan dan
penguasaan publik. Selain itu hidden curriculum juga dinilai sebagai
salah satu indikator keberhasilan sekolah dalam melakukan proses belajar
mengajar dan tranfers pengetahuan.
5.2
Saran
Bagi seluruh
pihak sekolah yang telah melakukan tugas sebagai media sosialisasi bagi
siswa-siswi, yang dipercayakan untuk memberikan pendidikan sekaligus pengasuhan
bagi mereka, selain terus mengupayakan cara atau metode ajar yang bisa diterma
siswa dan mudah diterapkan dalam proses belajar mengajar. Sekolah juga penting
melakukan evalusi yang ditujuan bagi guru, siswa, dan ketepatan penggunaan
kurikulum yang nantinya akan mengara pada diselipkannya kerikulum tersembunyi (hidden
curriculum).
Pencapaian dan
keberhasilan yang nantinya dijadikan output akan sangat terasa jika semua pihak
yang ada di dalamnya mampu bekerjasama dengan baik, tidak hanya itu dibutuhkan
juga pendampingan pihak orang tua siswa, agar upaya guru bisa berjalan seimbang
dengan harapan orang tua siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber
Buku
Damsar (2011). “Pengantar Sosiologi Pendidikan”. Jakarta :
Kencana Prenada Media Group.
Dimyati, Mudjiono. 2006. Belajar dan pembelajaran. Jakarta. Rineka
cipta.
Sumber
Internet
Andriani, Rini. November 2014. “Peran Guru dalam Pembelajaran
Menurut Paradigma Konstruktivistik”. From www.membumikanpendidikan.com/2014/11/peran-guru-dalam-pembelajaran-menurut.html?m=1. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2016
Asmara, I Made Y. November 2014. “Peran Guru dan Murid dalam
Proses belajar mengajar sesuai standar proses pembelajaran”. From http://imadeyudhaasmara.wordpress.com/2014/11/12/peran-guru-dan-murid-dalam-proses-belajar-mengajar--sesuai-standar-proses-pembelajaran/. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2016.
Budianto. Mei 2015. “Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curriculum)”.
From www.budhii.web.id/2015/05/kurukulum-tersembunyi.html?m=1. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2016.
Pratiwi, Esti Rahma. Maret 2016. “Pengaruh Kurikulum Tersembunyi
(Hidden Curriculum) Terhadap Pembentukan Karakter Siswa Kelas VIII di SMP IT
Masjid Syuhada’Kotabaru Yogyakarta”. Skripsi. From Digilib.uin-suka.ac.id/21710/.
Diakses pada tanggal 21 Oktober 2016.
No comments:
Post a Comment